Frekuensi Napas Normal Dalam 60 Detik pada Anak dan Dewasa

Tak hanya mengetahui cara bernapas yang benar, Anda juga perlu memiliki frekuensi napas normal. Frekuensi ini bisa juga disebut sebagai jumlah respirasi.

 Ini juga menjadi salah satu tanda vital apakah paru-paru masih bekerja dengan baik atau tidak.

Perlu Anda ketahui pula bahwa frekuensi pernapasan normal anak hingga orang dewasa pun berbeda. Berikut penjelasannya.

Apa itu frekuensi napas normal?

Dalam sistem pernapasan manusia, frekuensi napas normal adalah jumlah napas yang sudah dihirup dan diembuskan dalam waktu 60 detik atau satu menit. Jumlah ini dihitung dalam satu kali tarikan napas (inspirasi) dan satu kali embusan napas (ekspirasi).

Setiap menarik napas dan mengembuskannya dihitung sebagai satu kali hitungan.

Jumlah ini biasanya akan meningkat ketika Anda berolahraga. Frekuensi napas normal dalam 60 detik disebut juga sebagai respiratory rate (RR) atau tingkat pernapasan.

Apabila kadar oksigen dalam darah menurun atau kadar karbondioksida meningkat, tubuh akan bernapas lebih sering.

Jumlah pernapasan normal dalam 60 detik tiap orang bisa jadi berbeda tergantung usia. Berikut adalah penjelasan lengkapnya.

1. Frekuensi napas normal pada orang dewasa

Frekuensi napas normal pada orang dewasa berkisar antara 12-16 kali per menit. Namun, bernapas lebih dari 16 kali tidak selalu menjadi tanda adanya gangguan kesehatan.

Anda boleh mulai curiga adanya masalah pernapasan apabila frekuensi pernapasan per menit lebih dari 20 kali. Jumlah napas dalam 60 detik yang mencapai 24 kali per menit bisa menandakan gangguan pernapasan yang cukup berat.

Sementara itu, frekuensi napas di bawah normal menandakan gangguan pada sistem saraf pusat.

2. Frekuensi napas normal pada anak-anak

Sementara, umumnya respiratory rate (RR)normal pada anak umumnya lebih banyak dan akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Berikut ini adalah frekuensi napas normal anak-anak dalam 60 detik berdasarkan rentang usianya, yaitu:

  • Bayi baru lahir – 1 tahun: 30-60 kali per menit.
  • Usia 1 – 3 tahun: 24-40 kali per menit.
  • Usia 3 – 6 tahun: 22-34 kali per menit.
  • Usia 6 – 12 tahun: 18-30 kali per menit.
  • Usia 12 – 18 tahun: 12-16 kali per menit.

Cara mengukur frekuensi napas

Seperti yang telah dibahas sebelumnya satu kali pernapasan dihitung saat Anda menghirup dan mengembuskan napas. Hitunglah selama satu menit.

Anda bisa mengukur frekuensi napas normal sendiri di rumah tanpa alat-alat yang sulit. Berikut ini adalah cara mengukur frekuensi pernapasan dalam satu menit.

  • Siapkan pengukur waktu atau timer dan setel selama 1 menit
  • Agar hasil pengukuran akurat, Anda perlu berada di posisi yang rileks, seperti sambil duduk atau tiduran.
  • Jangan lakukan gerakan yang melelahkan sebelum mengukur frekuensi napas.
  • Setelah tubuh siap, nyalakan penghitung waktu dan mulai hitung jumlah tarikan napas dalam waktu satu menit.
  • Menghirup dan mengembuskan napas dihitung sebagai 1 kali pernapasan.

Untuk mempermudah, Anda bisa menghitung berapa kali dada bergerak naik saat bernapas.

Faktor yang memengaruhi frekuensi pernapasan

Frekuensi pernapasan yang melebihi atau kurang dari normal belum tentu menandakan masalah kesehatan. Apalagi jika rentangnya tidak terlalu jauh.

Pasalnya, ada beberapa faktor yang memengaruhi jumlah pernapasan normal dalam 60 detik. Berikut ini adalah beberapa hal yang memengaruhi respiratory rate normal:

1. Usia

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, usia menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi jumlah frekuensi napas. Orang dewasa umumnya memiliki frekuensi pernapasan yang lebih sedikit dibandingkan bayi dan anak-anak.

Umumnya, frekuensi napas bayi baru lahir dalam 60 detik berkisar antara 30-60 kali per menit. Jumlahnya akan sedikit melambat saat bayi tertidur, sekitar 30-40 kali per menit.

2. Jenis kelamin

Jurnal Breathe menyebutkan bahwa jenis kelamin mungkin saja berpengaruh pada jumlah pernapasan dalam 60 detik. Hal ini karena kapasitas volume paru pria yang lebih besar dibandingkan volume paru wanita.

3. Keadaan emosional

Keadaan emosional juga jadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi frekuensi pernapasan. Coba perhatikan, pernahkah Anda bernapas lebih cepat saat merasa takut atau cemas? Sementara, saat Anda sedang dalam keadaan relaks, pernapasan lebih lambat.

Ini berhubungan dengan cara kerja sistem saraf. Pasalnya, sistem pernapasan juga diatur oleh bagian di dalam otak. Saat merasa cemas atau takut, sistem saraf pusat akan memerintahkan tubuh Anda dalam mode flight or fight. Mode ini akan membuat Anda bernapas lebih cepat pula sebagai respons alami.

4. Kondisi kesehatan

Faktor kesehatan, khususnya masalah sistem pernapasan, jelas dapat memengaruhi jumlah normal pernapasan dalam satu menit. Jumlah napas yang lebih cepat pada orang dewasa bahkan lebih dari 24 kali per menit bisa menandakan adanya masalah tertentu.

Masalah pada sistem pernapasan, seperti paru-paru, dapat menyebabkan tubuh kekurangan oksigen. Saat kekurangan oksigen, tubuh akan berusaha memenuhinya lewat bernapas. Akibatnya, napas jadi lebih cepat dan frekuensinya jadi bertambah.

5. Suhu tubuh

Suhu tubuh juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi frekuensi pernapasan dalam 60 detik. Saat Anda mengalami demam, respiratory rate biasanya juga akan naik. Ini adalah salah satu respons tubuh untuk menurunkan panas.

6. Posisi tubuh

Posisi tubuh juga memengaruhi jumlah pernapasan Anda dalam 60 detik. Sebuah penelitian menyebutkan, orang yang berbaring 45 derajat memiliki frekuensi pernapasan yang lebih rendah ketimbang mereka yang berbaring 90 derajat (duduk tegak lurus).

Penyebab frekuensi napas kurang dari normal

Beberapa penyebab frekuensi napas kurang dari normal yang perlu Anda ketahui, seperti:

1. Konsumsi alkohol berlebih

Alkohol merupakan zat yang bisa berperan sebagai depresan pada sistem saraf pusat. Semakin banyak alkohol yang Anda konsumsi, maka efek depresan ini pun akan semakin meningkat.

Untuk itu, hal ini bisa membuat kerja dari sistem saraf pusat terganggu hingga memengaruhi frekuensi pernapasan normal.

2. Mengonsumsi obat-obatan terlarang

Obat-obatan terlarang atau narkotika, bisa memengaruhi kerja sistem saraf pusat dan merusak berbagai fungsi penting di tubuh, termasuk pernapasan.

3. Cedera otak

Cedera pada otak terjadi di bagian otak yang berperan mengatur pernapasan di tubuh. Ini menyebabkan frekuensi pernapasan normal menjadi lebih sedikit dari yang seharusnya.

4. Apnea tidur

Apnea tidur adalah gangguan yang membuat pola pernapasan pengidapnya terganggu saat sedang tidur. Penyebabnya karena dinding tenggorokan mengendur serta menyempit.

5. Hipotiroidisme

Penyebab hipotiroidisme adalah kelenjar tiroid yang kurang aktif. Padahal, kelenjar tersebut berperan menghasilkan hormon tiroid yang mengatur banyak proses penting di tubuh, termasuk pernapasan.

Penyakit ini bisa membuat otot paru-paru melemah, sehingga pengidapnya jadi sulit bernapas dan frekuensi napasnya pun kurang dari normal.

Penyebab frekuensi napas lebih dari normal

Frekuensi napas lebih dari normal bisa disebabkan oleh beberapa kondisi atau penyakit sistem pernapasan, seperti di bawah ini:

1. Demam

Demam adalah kondisi ketika suhu di tubuh naik. Maka dari itu, salah satu usaha alami tubuh untuk menurunkannya adalah dengan bernapas lebih cepat.

2 Asma

Salah satu penyebab frekuensi napas lebih tinggi dari normal adalah serangan asma. Pada orang dengan riwayat asma, kenaikan frekuensi napas sedikit saja bisa menandakan kekambuhan yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah saat mengalami sesak napas.

3. Dehidrasi

Dehidrasi adalah kondisi kekurangan cairan di tubuh. Tidak hanya bisa memicu bibir pecah-pecah serta tubuh terasa lemas, kondisi ini juga bisa meningkatkan frekuensi napas normal.

4. Penyakit paru obstruktif kronis

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah salah satu penyebab umum terjadinya kenaikan frekuensi napas melebihi normal. Terutama, oleh pengidap PPOK yang memiliki kebiasaan merokok.

5. Infeksi

Frekuensi napas melebihi normal juga bisa disebabkan oleh infeksi yang menyerang saluran pernapasan seperti flu, pneumonia, dan tuberkulosis.

6. Hiperventilasi

Hiperventilasi adalah kondisi napas pendek-pendek dan cepat. Biasanya, hal ini terjadi saat seseorang mengalami stres, gangguan kecemasan, atau serangan panik.

7. Asidosis

Asidosis terjadi saat darah di tubuh menjadi jauh lebih asam dari yang seharusnya. Gangguan ini bisa terjadi sebagai komplikasi dari diabetes.

8. Overdosis obat

Overdosis obat jenis aspirin ataupun amfetamin bisa memicu naiknya frekuensi napas. Anda perlu memastikan dosis obat yang tepat sebelum terjadi masalah pada tubuh.

9. Gangguan paru lainnya

Gangguan paru lainnya seperti kanker dan emboli paru bisa menyebabkan seseorang bernapas jadi lebih cepat dari kondisi normal. Emboli paru adalah kondisi tersumbatnya pembuluh darah yang terhubung ke paru-paru akibat gumpalan darah.

Kapan harus periksa ke dokter jika frekuensi napas tidak normal?

Jika frekuensi napas tidak seimbang, hal tersebut belum tentu menandakan penyakit. Namun, apabila nilainya terlalu jauh dari rentang normal, kemungkinan besar ada gangguan kesehatan yang sedang terjadi.

Anda perlu memeriksakan diri ke dokter apabila nilai frekuensi napas sangat jauh dari angka normal, serta mengalami gejala-gejala di bawah ini:

  • Demam
  • Badan lemas
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri dada
  • Kulit terlihat kebiruan
  • Bunyi aneh saat bernapas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.